Di sini saya pengen berbagi keresahan... Hehehehe.
Kalo dipikir-pikir, masyarakat Indonesia yang dulu terkenal ramah tamah itu.... Sekarang berubah menjadi masyarakat GALAU yang tak bahagia. Perkelahian pelajar masih belum bisa diatasi tuntas, bagai bara api dalam sekam. Dari dulu sejak zaman saya SMA sampai sekarang anak saya uda SMA, yang berkelahi kebanyakan sekolah yang itu2 aja. Dan sepertinya no way out.
Di saat remaja2 lain di luar sana sibuk berprestasi dan bersaing untuk menjadi yang terbaik melalui penguasaan teknologi IT, remaja Indonesia kebanyakan menjadi konsumen dan penikmat teknologi.
Ketika beberapa tahun mendatang setelah era pasar bebas tenaga dari luar negeri siap mengisi lowongan tenaga ahli di Indonesia, anak negeri kita paling banyak mengisi sektor TKI dan TKW yang sangat rentan keamanannya, bahkan sering dipandang sebelah mata oleh negara pengguna,karena dikenal murah, mudah didapat, dan tidak ada perlindungan apa2.
Di TV, saya bosan melihat berita: di era yang katanya zaman reformasi ini, hampir setiap demo berakhir dengan kerusuhan, pengrusakan aset milik orang lain, dan sikap bermusuhan yang ditunjukkan kepada pihak penguasa. Sikap pesimis,tidak percaya dan muak terhadap pemerintah, sudah biasa menjadi warna masyarakat. Bagaimana tidak, tiap hari koran berisi daftar nama orang2 dari partai penguasa yang ketahuan korupsi. Rasanya susah menemukan pemimpin yang bersih. Sehingga gak heran, bberapa waktu yang lalu, masyarakat Jakarta seneng banget dengan hadirnya figur Jokowi... Namun ada sebersit rasa kuatir saya..jangan-jangan nantinya sama seperti SBY, yang kehadirannya ditunggu-tunggu untuk membawa angin segar dalam reformasi... Ternyata........
( nah, kan, saya sendiri juga jadi pesimis dan galau).
Kenapa saya bilang masyarakat kita adalah masyarakat galau, ..karena faktanya tingkat kriminal di masyarakat makin meningkat, bahkan yang paling menyedihkan adalah: si pelaku kebanyakan adalah orang dekat, kalau tidak boleh disebut orang terdekat korban.
Akhir2 ini ramai diberitakan tentang kejahatan dalam keluarga yang makin terekspos. Saya yakin nilainya jauh lebih besar, namun kebanyakan korban takut dan gak tau harus berbuat apankaren malu dan berada di bawah ancaman. Gimana gak menyedihkan, manakala kepolosan dan kepercayaan seorang anak ternoda dengan kejahatan seksual dari ayah kandungnya sendiri,.. Dan sedihnyaaaa itu kebanyakan dilakukan berulang-ulang bahkan bertahun-tahun tanpa ketahuan, yang pastinya berakibat runtuhnya tingkat kepercayaan diri anak atau kepercayaannya kepada orang lain. Pelecehan seksual juga beberapa kali diberitakan dilakukan dari tokoh kepercayaan seperti guru (atau belum lama ini, wakil kepala sekolah ) kepada muridnya. Ckckck. Seolah masyarakat kini uda bener-bener kehilangan hati nurani.
Kejahatan paling gress yang bikin ngenes adalah mutilasi keji yang dilakukan kepada seorang wanita dan pelakunya tak lain adalah suaminya sendiri. Hiiihhh. Perilaku mutilasi itu bahkan seolah dipamerkan oleh pelakunya, dianggap kerenkah???
Yang membuat saya bergidik, berita2 itu bukan terjadi nun jauh di sana, bukan terjadi di New York yang ribuan kilometer di benua Amerika sanaaaa...tapi itu terjadi di sini, di sekeliling kita, dan itu menyedihkan banget.
Seolah uda ga ada solusi lain yg bisa ditempuh, dan ujung2nya: habisin aja, deh. Habis perkara! Padahal siapa bilang habis perkara? Pelakunya pasti dihukum berat, bakalan ngendon lama di penjara, dan bukan cuman itu aja: seumur hidup didera oleh perasaan bersalah..( kalau masihpunya perasaan ).
Ngomong soal penjara, saya juga galau banget.
Bayangin aja, orang yang masuk penjara gak pernah kapok. Gimana mau kapok? Yang masuk penjara karena korupsi masih bisa jalan2 ke luar negri krn semua bisa diatur dengan uang. Yang dipenjara karena narkoba juga masih bisa ngatur penjualannya dari dalam penjara, malah bisa jadi bandar. Yang kemaren dipenjara karena masalah cacat moral, setelah bebas malah jadi makin ngetop, dikontrak oleh berbagai perusahaan dan dipasang sebagi bintang iklan, tampangnya malang melintang di TV dan koran, bikin band baru dan usaha baru dengan namanya.... Seolah kesalahannya tak berarti, dan sosoknya tetap menjadi idola, malah makin menjadi idola. Saya kuatir anak2 saya dan generasi mud lainnya menganggap, wah kalo gitu berbuat zinah dan cabul itu sah-sah aja.. Malah bikin tambah ngetop dan kaya raya... Di negeri yang katanya Agamis dan menaruh Ketuhanan yang Maha Esa sebagai sila nomer satu dan utama dalam dasar negaranya.
Haizzzzzzzzzzzzzzzzz.
Jadi bagaimana???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar